Keluar dari Ancaman Penyempitan Fisikal Belum Ada Tombol Ajaib
Keluar dari Ancaman Penyempitan Fisikal dampak kenaikan energi global, belum ada Tombol Ajaib mencegah penyempitan fiskan dan defisit anggaran
Dampak Ekonomi Global
Di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik, terutama perang antara AS-Israel dan Iran, harga minyak dunia mengalami lonjakan signifikan. Dari asumsi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang dipatok pada USD 70 per barel, harga minyak kini telah melambung hingga USD 113 per barel bahkan diperkirakan akan mencapai USD 150. Kenaikan ini akan mengancam stabilitas ekonomi, penyempitan ruang fiskal, utang bertambah, pembengkakan subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM) dan kompensasi yang harus dibiayai oleh pemerintah akibat kenaikan barang dan jasa yang diperparah tidak dibarengi dengan kenaikan pendapatan masyarakat.
Kenaikan nilai tukar 16.500, saat ini menyentuh 17.000/1US$, sudah pasti menyebabkan tekanan terhadap APBN 2026 melalui pembengkakan subsidi dan kompenesai energi dari Rp. 210 triliun (T) hingga Rp. 560T triliun (T) dan akan meningkatkan eskalasi akumulasi beban utang pada akhir tahun akan mencapai Rp. 9. 138 T. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan hasil stress test, jika harga minyak naik ke US$ 92/barel dan tidak ada penyesuaian kebijakan, defisit APBN akan melebar menjadi 3,6% PDB, ketika harga saat ini US$ 113/barel, skenario stress test di atas akan melampui dari 3,6%.
Menghadapi Ancaman Fiskal Dengan Program Selektif Efektif
Menghadapi situasi semacam itu pemerintah harus mengekselerasi implementasi system administrasi digital perpajakan untuk meningkatkan tax ratio, intensifikasi wajib pajak non efektif, non pajak dan rasionalisasi anggaran dengan prioritas program-program yang produktif dan mengurangi program yang bersifat populis non selektif, seperti Program makan bergizi gratis MBG.
MBG, menyerap anggaran Rp. 335T, perlu segera dilakukan penyesuaian yang secara efektif selektif, tidak lagi digeneralisasi. Jika diperlukan pemangkasan 50% dari total anggaran tahun 2026. Pemberian MBG tidak lebih dari pemberian makanan tambahan bagi penerima. Pemenuhi gizi utama tetap pada orang tuanya, sebaiknya pemerintah menyediakan lapangan kerja bagi orang tuanya, agar tidak membebani anggaran negara.
Penyesuaian Subsidi BBM
Penyesuaian harga BBM, merupakan opsi paling akhir ketika tidak ada jalan lain, itupun harus dilakukan tanpa menimbulkan shock di tengah kesulitan rakyat. Setiap kenaikan harga BBM selalu diikuti dengan kenaikan barang dan jasa, tidak pararelisme pendapatan. Oleh sebab itu, Subsidi yang diberikan pemerintah perlu dan ganya diberikan kepada 1. Masyarakat berpenghasilan rendah, 2. Pelaku UMKM, 3. Tranfortasi masal atau umum dan petani, nelayan dan perikanan.
Cadangan Energi Baru Terbarukan (EBT)
Pemerintah wajib untuk mengantisipasi dinamika perkembangan dunia dengan cara menyiapakan cadangan energi yang cukup untuk masa 90 s/d 180 hari, agar ketika terjadi gejolak harga energi pemerintah memiliki ruang untuk mengontrol harga.
Mengembangkan Energi Baru Terbaru (EBT) dengan memanfaatkan sumber daya alam yang ada di Indonesia, seperti matahari, angin, air dan panas bumi. Kenaikan harga minyak juga akan mengerek harga komoditas ekspor andalan Indonesia seperti timah, tembaga, nikel, batubara, dan CPO yang dapat menambah devisa untuk mengkompensasi kenaikan harga energi.
Menghadapi ancaman penyempitan fiskal akibat lonjakan harga minyak, pemerintah perlu menerapkan beberapa strategi, tidak ada tombol ajaib, salah satu solusi terbaik adalah dengan memanfaatkan teknologi dan energi terbarukan, untuk mengurangi ketergantungan pada minyak bumi. Selain itu, pengembangan kebijakan yang mendukung efisiensi energi, patut dipertimbangkan. Melalui tombol ajaib 'inovasi EBT' dan 'kesadaran' efisiensi penggunaan energi di kalangan masyarakat, bisa beralih ke penggunaan energi yang lebih berkelanjutan.
Kesimpulan
Kenaikan energi fosil dunia yang masih menjadi andalan berpengaruh besar terhadap penyempitan dan deficit, tidak ada tombol Ajaib, langkah strategis pemerintah harus dapat mengimbanginya dengan cara menata utang, meningkatkan pendapatan negara dengan evaluasi program populis non selektif, intensifikasi pajak, non pajak, peningkatan devisa ekspor, investasi dan pengembangan Energi Baru Terbaru serta mencegah korupsi & peralirian devisi ke luar negeri.
Saran : Mari kita Pemerintah dan rakyat, semua berperan serta untuk menciptakan solusi bagi perekonomian yang lebih berkelanjutan dengan cara memanfaatkan energi secara efisien dan mencegah pemborosan. Transfortasi masal untuk barang dan jasa serta pergerakan manusia perlu diwujutkan bukan saja untuk mencegah kemacetan yang membuang energi tetapi juga efektifitas transportasi secara nasional
